Selasa, 29 Juli 2008

Cinta yang Sederhana

"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di
hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata
dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang
terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak
pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun
aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada
setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi.
Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku,
dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam.
Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari
istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti
putri hari ini
cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa
dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday
to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku
terisak. Entah
mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah.
Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya
suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan.
Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil
begini, bisa
mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang
tahunku.
Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan
sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan
aku mesti
bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya
tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan
warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara
bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau
bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya?
Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah
jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku
sedikit terhibur.
Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air
yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?"
ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu
warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey
mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya
menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku
belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini.
Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air
matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih
dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu
pikiranku? Yang
menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku
pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat
telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu
menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk
membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan
itu. "Tahu
nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan.
"Kamu ngasih
aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu
ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede',"
senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang
sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati
padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam
istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap
siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang
di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang
nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku
alami bersama
suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah
pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke,
fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya
terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya.
Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa
ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan
keluhan?

Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana...


Original Sender: Firson Joko Raharjo

Rasa Sayang Itu Selalu Ada

"Ayah..., sakit!!!" teriaknya sambil mencoba berontak
ketika sebuah alat dimasukkan ke dalam lubang
telinganya. Namun dengan sigap sepasang tangan
memeluknya erat. Tangan itu kokoh dan kuat, terlihat
dari urat-urat yang menonjol jelas. Anak kecil itu
kembali meronta kesakitan, namun apalah arti tenaganya
dibandingkan dengan sepasang tangan mantan pemain
rugby tersebut.

Lelaki itu memang terlihat tegar sambil memangku dan
mendekap anaknya. Perawakan tinggi besar dan kulitnya
yang hitam semakin menampilkan sosok yang sangar.
Penampilannya kian sempurna dengan sikap keras yang ia
tunjukkan terhadap anak-anaknya. Ancaman lecutan kayu
kecil, ataupun hardikan bernada marah adalah suatu hal
yang biasa terlontarkan.

Namun tak urung teriakan kesakitan dari buah hatinya
itu menciptakan riak kecil di telaga matanya yang
tajam. Jeritan seorang anak laki-laki yang biasanya
bergerak lincah, namun sekarang terlihat menderita.
Mata sayu menghiasi air muka yang pucat, bibir yang
pecah-pecah karena dehidrasi serta ingus yang telah
bercampur darah tampak jelas meleleh dari hidungnya.

Serangan virus influenza yang sudah parah dan gejala
pneumonia, kata dokter dalam bahasa Inggris yang
terpatah-patah. Tak ada jalan terbaik, kecuali harus
rawat inap beberapa hari di Iizuka Byouin. Lelaki yang
sering terlihat tegang itu pun tak tahan
menyembunyikan sesegukan isakan, wajahnya basah. Aku
yang berdiri di sampingnya juga tanpa sadar meneteskan
air mata.

Aku yakin, di balik sikap sehari-harinya yang terlihat
angkuh dan keras, rasa sayang di hatinya niscaya
selalu ada. Bukankah perasaan sayang ini adalah fitrah
dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang selayaknya ada
pada setiap ayah. Rasa sayang yang berbunga cinta itu
akan menjadikan seorang ayah rela bercucuran keringat,
bahkan nanah dan darah untuk anak-anaknya.

Anak bagi sebuah keluarga memang layaknya permata yang
indah. Ia umpama cahaya yang menyinari kehidupan rumah
tangga. Karenanya tak heran seorang ayah siap
berkorban jiwa dan raga demi buah hati tercinta. Letih
dan uzur yang meranggas tubuhnya pun tak pernah
dihiraukan. Luapan sayang itu begitu bergelora
memenuhi rongga dada, hingga kadang melalaikan rasa
sayang dan cinta kepada kekasih yang sesungguhnya.

*****

Sore pun menjelang. Setelah mengurus administrasi yang
diperlukan untuk rawat inap, kami lantas bergegas
pulang. Ayah dari anak laki-laki itu pulang sebentar
ke rumah untuk mengambil beberapa barang keperluan,
sedangkan aku mesti ke kampus karena ada pekerjaan
yang harus diselesaikan. Tak banyak yang kami
bicarakan selama perjalanan, diam dibaluri suara mobil
yang melantun pelan.

Pikiranku lalu melayang-layang, mengembara dan bersua
dengan buah hati tercinta di rumah, Asy Syifa. Ia lucu
dan tampak cantik dengan jilbab mungilnya. Mata
indahnya berbingkai bulu mata yang lentik dan panjang.
Celotehan dan gerak-geriknya pun selalu kurindukan.
Semua itu membuat rasa sayang dan cinta kepadanya
selalu berlimpah ruah. Aku merasa wajar saja, karena
perasaan itu selalu ada pada diri setiap ayah, bahkan
pada seorang Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam, khaliluLlah.

Akhirnya, tanpa terasa kami telah tiba di lapangan
parkir kampus Kyuukoudai, dan aku terburu-buru menuju
lab. Setelah istirahat sejenak, kuhidupkan komputer.
Klik icon MATLAB pada monitor, dan konsentrasi
melanjutkan pemrograman seraya memasang earphone. Lalu
jari-jemari menari di atas keyboard sembari asyik
mendengarkan musik. Senandung nasyid Belajar dari
Ibrahim-nya Snada pun mengalun perlahan dengan nada
indah.

Sering kita merasa taqwa / Tanpa sadar terjebak rasa /
Dengan sengaja mencuri-curi / Diam-diam ingkar hati
Pada Allah mengaku cinta / Walau pada kenyataannya /
Pada harta, pada dunia / Tunduk seraya menghamba
.....

Deg!!!
Jari-jemariku mendadak kelu, dan aku pun tercenung.

Allahumma inni asaluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka
wal 'amala aladzi yubalighuni ilaa hubbika.
Allahummaj'al habbaka ahabbu ilayya min nafsii wa
ahlii waminal maailbaarid.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kecintaan-Mu,
kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu dan amal yang
menyampaikanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah
kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada
diriku, keluargaku dan air yang sejuk/dingin (harta).

WaLlahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,


Abu Aufa

Catatan:
- Iizuka Byouin: Iizuka Hospital (Iizuka adalah nama
sebuah kota kecil yang terletak di tengah-tengah
Fukuoka Prefecture, Pulau Kyuushuu, Jepang).
- Kyuukoudai: Kyuushuu Kougyou Daigaku
(http://www.kyutech.ac.jp/).
- MATLAB: MATrix LABoratory, merupakan salah satu
bahasa pemrograman yang sering digunakan dalam keteknikan.